Tanpa disadari kita sebagai orang tua mungkin saja Khilaf terhadap anak. Bukan berarti tindakan kita sebagai orangtua selalu benar. Tak jarang orangtua juga melakukan kesalahan. Tentu saja hal tersebut dapat memicu terganggunya hubungan antara orang tua dan anak. Lalu, apakah perlu orangtua meminta maaf kepada anak?
Seringkali kita sebagai orangtua menciptakan aturan yang berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Tetapi kita sering lupa bahwa aturan itu bukan saja untuk anak, tetapi orangtua itu sendiri. Kita sebagai orangtua sering kali mengatakan kepada anak-anak bahwa jika kita melakukan kesalahan maka harus meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan. Bahkan kadang ditambah dengan mencium (cium sayang tentunya) kepada yang dimintai maaf. Maka seyogyanya kita sebagai orangtua juga meminta maaf jika melakukan kesalahan. Bukankah anak adalah peniru yang hebat ?
Namun, apakah dengan meminta maaf kepada anak tidak akan menurunkan wibawa kita sebagai orangtua? Tentu saja tidak kalau kita tahu pesis bagaimana cara yang tepat untuk meminta maaf kepada anak. Inilah beberapa langkah meminta maaf pada anak tanpa membuat kita harus kehilangan wibawa di depan anak-anak.
1. Mengaku bersalah. Mengaku bersalah kepada anak teryata bukan hal yang mudah dilakukan oleh para orangtua, karena orangtua seringkali merasa gengsi. Lupakanlah gengsi itu, kalau memang kita tak ingin masalah yang ada terus berlanjut. Sadari bahwa permasalahan itu muncul akibat kesalahan kita dan akui itu di hadapan anak. Dengan demikian, anak akan merasa diperlakukan secara adil. Mengakui kesalahan merupakan salah satu faktor penting dalam meminta maaf.
2. Tulus. Meminta maaf sebaiknya dilakukan secara tulus. Jangan mencoba untuk membohongi anak karena anak-pun punya perasaan. Anak akan tahu dan merasakan itu saat kita meminta maaf hanya sebagai basa-basi. Akibatnya, anak akan merasa dibohongi, dan ini akan dapat menumbuhkan rasa ketidakpercayaan anak kepada kita sebagai orangtua.
3. Tenang. Meminta maaf sebaiknya dilakukan setelah kita merasa lebih tenang. Meminta maaf dalam keadaan emosi tidak akan membuahkan hasil seperti yang kita harapkan. Kalau kita belum bisa bersikap tenang, katakan kepada anak bahwa kita butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.
4. Tepat sasaran. Katakan permintaan maaf kita secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang kita mintakan maaf adalah sikap kita yang baru saja terjadi, bukan kepribadian kita. Misalnya, kita meminta maaf atas kemarahan dan ucapan kita yang kasar kepada anak, bukan atas kepribadian Anda yang emosional.
5. Jangan menyalahkan. Jangan sekali-kali kita balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap kita sendiri. Misalnya, kita mengatakan kepada anak bahwa ”Seandainya kamu tidak malas, ibu tidak akan marah terus kepadamu”. Ini sama saja kita tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkan anak yang berakibat semakin meruncingnya permasalahan.
6. Meminta maaf. Akui bahwa kita bersalah dan bertanyalah kepada anak apakah ia mau memaafkan kita. Dialog ini akan mempermudah kita untuk mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.
7. Evaluasi. Ajaklah anak untuk melihat dan mengevaluasi kembali bagaimana kita bisa menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai cara yang sebaiknya dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.
8. Lupakan. Bagaimanapun juga, walaupun kita sebagai orangtua, kita hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah kita. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika kita meminta anak-anak untuk tidak mengulang kesalahannya.
9. Jangan berlebihan. Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat kita kehilangan wibawa. Mintalah maaf kepada anak karena kita memang bersalah, bukan karena kita berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang diberlakukan di dalam rumah.