Sunday

Bidadari Tanpa Bayangan | # 2

Tiara melirik kepada orang itu dan membisikan sesuatu. “Bilang temanmu untuk mengembalikan handpohone yang baru saja diambilnya dari seorang Bapak Tua yang berdiri didepan pintu atau kamu akan aku lempar keluar”

Tatapan tajam Tiara membuat orang itu bergetar. orang itu pun memberi kode dengan siulan kepada temannya bahwa dia ketangkap basah dan meminta pertolongan. Tiara yang mengerti kode tersebut segera menginjak kaki orang itu tepat dikelingkingnya. Teman-teman orang itu pun memandangi Tiara dengan wajah sangar seperti serigala yang hendak memakan mangsanya.

Wajah orang itu pun merah padam menahan sakit yang teramat karena kelingkingnya masih diijak oleh Tiara. Kembali orang itu memberikan kode kepada teman-temannya untuk mengembalikan handphone yang berhasil diambil dan turun pada pemberhentian terdekat.

Teman orang itu pun mengembalikan handphone yang baru saja diambilnya. Dengan terampil dia mengembalikannya tanpa diketahui oleh bapak tua itu.
Kereta pun berhenti di Stasiun Depok. Tiara melirik orang itu dan memberikan tanda agar orang itu dan teman-temannya segera turun dari kereta.

“Permisi … permisi” orang-orang itupun segera keluar dari kereta.

Orang-orang didepan pintupun merasa kesal karena mereka memaksa keluar dari kereta dengan sedikit mendorong orang-orang didepan pintu.

Ternyata gerombolan copet itu terdiri dari tiga orang. Orang pertama adalah seorang pria dengan rambut kemerahan. Tubuhnya tegap dan altelits. Tingginya sekitar seratus tujuh puluh lima centi. Rambutnya lurus, kasar dan sebagian menutupi wajahnya. Bentuk wajahnya kotak dan tulang rahangnya sangat menonjol. Orang itu menggunakan kemeja lengan pendek yang digulung lagi hingga tato dilengan atasnya terlihat. Matanya yang tajam melihat Tiara dengan buasnya. Sungguh mengerikan. Orang itulah yang mencoba mengambil dompet Tiara. Dia meringis kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya yang agak kemerahan.

Orang kedua adalah seorang pria dengan rambut ikal. Panjangnya kira-kira sebahu. Wajahnya bersih dan berbentuk oval. Tubuhnya pendek dan sedikit bongkok. Orang itu menggunakan kaos berwarna hitam. Orang itu memegang jaket hitam, mungkin untuk menutupi gerak-gerik tangannya ketika orang itu melakukan aksinya.

Orang ketiga adalah seorang pria setengah baya. Umurnya sekitar empat puluh tahun. Badannya yang hitam ditutupi oleh bulu. Tubuhnya tinggi besar. Alisnya yang tebal hampir mendominasi wajahnya. Kumisnya yang lebat menambah kesan tua kepada orang itu.

Ketiga orang itu menatap Tiara dengan marah. Tiara menyambutnya dengan tampang seperti tidak terjadi apa-apa. Hingga kereta berjalan kembali, ketiga orang itu tidak berkedip melihat Tiara.

“Mereka dari perkumpulan mana ya ?” pikir Tiara. “Dari cara orang itu berkelit jelas dia mempunyai ilmu yang lumayan tinggi, tapi …. Ah mungkin semua copet seperti itu.” pikir Tiara lagi.

Tak terasa kereta sudah sampai di stasiun Cawang dan Tiara bersiap turun. Dibelakang Tiara berdiri seorang Pria yang tinggi besar menggunakan kemeja lengan panjang. Pria itu membuntuti Tiara menuruni kereta. Kereta itu berjalan kembali pada saat semua penumpang turun. Tiara berjalan menyusuri peron stasiun beberapa puluh meter sebelum sampai ke pintu keluar stasiun.

“Toootttt” bunyi klakson kereta kembali terdengar, menandakan ada kereta yang datang kembali di stasiun tersebut.

“Ting Tong … hati-hati jalur satu, segera melintas pakuan tujuan Jakarta” jelas kepala stasiun melalui PA di stasiun itu.

Pria yang tadi berdiri dibelakang Tiara saat ini sudah berada disamping Tiara. Dan ketika kereta tepat melaju disamping Tiara, orang itupun mendorong Tiara. Tiara yang sudah mengetahui gelagat itupun mundur kebelakang menghindari dorongan orang itu. Orang itu pun hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan. Tiara segera menendang perut orang itu dengan kaki kirinya. Tiara mendorong orang itu kebelakang agar orang itu tidak terjatuh dan terseret kereta yang melaju dengan cepatnya.

Orang itupun jatuh kebelakang. Dan menatap Tiara ketahukan. Tiara memberikan tangannya menawarkan bantuan kepada orang itu. Orang itupun bangun dengan terburu-buru dan berjalan dengan gontai meninggalkan Tiara. Tiara kembali berjalan menuju pintu keluar stasiun.

“Sial rupanya ada satu orang lagi didalam kereta dan dia mengincarku” pikirTiara. “Aku harus berhati-hati lagi, aku takut mereka mengenaliku dan mencoba mencelakaiku lagi”

Tiara berjalan keatas jembatan menuju Jalan Gatsu. Tiara janjian dengan temannya untuk menunggunya disitu menuju Bekasi.

Tak berapa lama kemudian sebuah mobil sport berwarna putih menuju kearah Tiara dengan kecepatan tinggi.

# Bersambung …

Thursday

Bidadari Tanpa Bayangan | # 1

“Sayang, bangun … sudah pagi nih” bisik Tiara sambil mengecup kening Guntur.

Guntur membuka matanya seraya melirik wanita cantik disampingnya. Sejenak Guntur menarik nafas panjang dan berusaha untuk membuka matanya, tetapi perlahan matanya pun tertutup kembali.

Tiara membuka jendela kamarnya. Hawa dingin pun berebut untuk memasuki kamar yang hangat tersebut. Dikejauhan Gunung Salak yang gagah itu tampak masih tertidur. Kabut putih masih setia menyelimutinya. Mataharipun masih enggan untuk menampakkan dirinya.

“Kamu mau sarapan apa pagi ini ?” tanya Tiara berusaha membangunkan Guntur kembali.

“Hmm … apa ya ?” lirih Guntur. “Hmm terserah dech …” jawab Guntur sambil menutup matanya kembali.

“Achh ... bilang saja minta dibelikan Nasi Uduk Mpok Nuri kan ?” tanya Tiara.

Tanpa menunggu waktu lagi Tiara segera mengambil sweater coklat miliknya dan menuju balkon diluar kamarnya.

Dengan cepat Tiara turun dari Balkon kamar yang terletak di lantai 2 rumahnya. Hap … kaki Tiara berpijak pada pohon Mangga yang terletak tepat didepan rumahnya. Kaki Tiara tidak menimbulkan suara sedikitpun seperti burung hinggap diatas dahan. Hingga akhirnya tong sampah itu menjadi pijakan terakhir Tiara sebelum mendarat di tanah. Mata Tiara mengamati sekeliling taman rumahnya memastikan tidak ada seorangpun yang melihat aksi Tiara. Sambil menepuk-nepukkan keduatelapak tangannya Tiara menarik napas panjang dan berjalan keluar rumah untuk membeli sebungkus nasi uduk untuk Suami tercinta.



“Sayang, sarapannya sudah siap” kata Tiara.

Nasi uduk buatan Mpok Nuri sangat harum menyerbak. Warn putih pucat yang keluar dari nasi tersebut menandakan nasi tersebut diselimuti oleh santan yang kental. Aroma bawang goreng menambah selera siapa saja yang menciumnya. Tak ketinggalan Tiara menambahkan telur mata sapi buatannya sendiri.

Tak lupa Tiara membuatkan teh tubruk panas . Teh yang dibeli langsung dari kebun teh di Puncak mengeluarkan aroma tersendiri dan membuat orang yang meminumnya terhipnotis masuk kedalam suasana pedesaan.

Guntur keluar dari kamar sambil mengancingkan kemeja menuju meja makan. “Terima kasih ya sayang” bisik Guntur sambil mengecup kening Tiara. Tiara membalasnya dengan senyuman.

“Hari ini aku rencana ke Bantar Gebang untuk memberikan sumbangan dari Pabrik Kaca” Kata Tiara mengawali pembicaraan dimeja makan. “Rencananya Pabrik Kaca itu akan menyumbang perosotan dan perlengkapan sekolah. Nggak papa kan sayang ?” Tanya Tiara meminta persetujuan Guntur untuk memperbolehkan Tiara keluar rumah.

“Hati-hati ya Sayang” jawab Guntur menyetujuinya

Tiara memang aktif di sebuah Yayasan Sosial Kusuma. Tiara biasa mengajar di rumah singgah. Tiara yang dikenal guru yang kreatif karena gaya mengajar yang sangat berbeda dengan guru pada umumnya. Dia menjelaskan sesuatu kepada anak didiknya dalam bentuk sandiwara boneka atau wayang. Tak heran anak-anak sangat senang bila Tiara datang untuk mengajar.



“Aku duluan ya” kata Guntur kepada Tiara ketika kereta jurusan Tanah Abang Express membuka pintu tepat didepan Guntur berdiri.

“Ya, hati-hati ya Sayang.” jawab Tiara.

Beberapa detik kemudian kereta tersebut meninggalkan Tiara. Tiara tenggelam bersama puluhan orang yang menunggu kereta jurusan Jakarta. Tiara membayangkan nanti dia akan bertemu dengan anak-anak Bantar Gebang. Wajah lugu yang keluar dari anak-anak itu membuat hati Tiara senang.

“Totttt” Suara klakson kereta memecah lamunan Tiara.

Beberapa saat kemudian kereta ekonomi jurusan Jakarta pun tiba di stasiun Bojong Gede. Tiara memasuki kereta yang sudah penuh tersebut. Tiara langsung mencari posisi yang enak. Dia lebih suka berdiri disamping pintu karena dirasa aman dan tidak akan terdorong-dorong ketika ada orang yang keluar.

Tiara menikmati pemandangan diluar sana. Dia mengamati kemacetan ketika kereta melewati persimpangan. Terlihat pengendara motor yang tidak sabar ingin segera menyebrang rel kereta. Mereka tidak peduli jarak antara kereta dan motornya hanya beberapa centimeter saja.

Tiara merasakan gelagat yang aneh dari sesorang yang berdiri disampingnya. Orang itu sengaja merapatkan tubuhnya ke Tiara. Tiara yang merasa risih akan hal itu segera bergeser sedikit. Orang itu pun kembali merapatkan tubuhnya ke Tiara. Tiara merasakan tasnya dirogoh orang itu. Sangat terasa sekali ketika tangan orang itu mengerayangi tas Tiara. Tiara sengaja membiarkan orang itu melakukan aksinya dan ketika tangan jahil itu berhasil masuk kedalam tas Tiara seketika itu pula tangan Tiara berusaha untuk menangkap tangan jail tersebut dengan menjepitnya dengan lengannya.

Hampir saja Tiara mendapatkan tangan itu, tetapi rupanya orang itu lebih cepat dari pada Tiara. Tangan orang itu pun berhasil keluar dari tas Tiara. Tiara yang merasa yakin bahwa orang yang berdiri disebelahnyalah yang melakukannya. Dengan sekuat tenaga orang itu menarik kakinya. Ketika nyaris lepas, Tiara segera menyambar tangan sang copet dengan lihainya. Sang copetpun kebingungan ketika tangannya berhasil dipegang Tiara. Tiara memegangnya dengan keras tepat dipergelangan tangan orang itu. Orang itupun berusaha untuk melepaskan tangannya dari gengaman Tiara tetapi genggaman tiara terlalu kuat dan membuat orang itu kesakitan.

# Bersambung …

Cinta ... Kamu sombong

Apakah kau tau cinta bahwa aku merindukanmu ...
Apakah kau tau cinta bahwa aku menanti kehadiranmu
Apakah kau tau cinta bahwa aku kehilanganmu

Mengapa cinta, ketika aku katakan merindukanmu kau terdiam
Mengapa cinta, ketika aku mendekat kau semakin menjauh
Mengapa cinta, ketika aku mengejarmu kau menghilang

Tapi cinta, aku tetap menunggumu
Tapi cinta, aku setia menantimu
Tapi cinta, aku merasa memilikimu

Cinta .... Tidakkah kau merasakan hal yang sama ?